Propam Polairud Polda Sulut Hadir Langsung Ke Nelayan Dan Masyarakat Pesisir : Jaminan Perlindungan Dan Keadilan”

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pelabuhan perikanan dan masyarakat pesisir kehadiran personel Polri berseragam biru khas Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Ditpolairud Polda Sulut membawa angin segar bagi para nelayan dan masyarakat pesisir.

Melalui program Layanan Dumas (Pengaduan Masyarakat) Propam Polri, institusi kepolisian hadir langsung ke garis depan kehidupan maritim untuk menjamin transparansi, akuntabilitas, dan keadilan dalam setiap pelayanan publik.

Momen ini terekam jelas dalam sebuah foto dokumentasi di dermaga, di mana personel Propam berdiri gagah bersama warga masyarakat di samping spanduk bertuliskan “Layanan Dumas Propam Polri – Agar Dunia Ini Ditindaklanjuti”.

Pesan pada spanduk tersebut bukan sekadar slogan, melainkan janji tegas bahwa setiap aspirasi, keluhan, atau laporan dari masyarakat—terutama mereka yang hidup di sektor kelautan—akan didengar, diproses, dan ditindaklanjuti tanpa pandang bulu.

Keputusan membuka posko layanan dummas di area pelelangan ikan dan dermaga merupakan langkah strategis Polri untuk mendekatkan diri kepada masyarakat yang sering kali sulit mengakses kantor polisi karena kesibukan melaut.

Bagi nelayan, waktu adalah uang; setiap jam yang terbuang untuk mengurus administrasi atau menyampaikan keluhan adalah kerugian ekonomi. Dengan hadirnya Propam di lokasi aktivitas mereka, Polri menghilangkan sekat birokrasi dan menunjukkan bahwa aparat penegak hukum benar-benar memahami ritme kehidupan rakyat kecil.

Spanduk dengan QR Code yang terpampang jelas juga mencerminkan adaptasi teknologi dalam pelayanan publik.

Masyarakat dapat dengan mudah mengakses saluran pengaduan resmi secara digital, memastikan bahwa setiap laporan tercatat dalam sistem yang terintegrasi dan tidak bisa dimanipulasi atau disembunyikan. Ini adalah wujud nyata reformasi birokrasi kepolisian yang berorientasi pada kemudahan dan kecepatan.

Frasa “Agar Dunia Ini Ditindaklanjuti” memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat pesisir. Bagi nelayan, “dunia” mereka adalah laut, perahu, dan hasil tangkapan yang menjadi sumber nafkah keluarga.

Ketika ada ketidakadilan, pungli, atau pelanggaran prosedur yang menghambat usaha mereka, itu sama dengan mengancam kelangsungan hidup mereka. Kehadiran Propam di sini adalah jaminan bahwa dunia kecil mereka dilindungi oleh negara.

Dalam keterangannya, Kombes Pol Bayuaji Yudha Prajas mengucapkan terima kasih dan apresiasi tulus kepada seluruh anggota Polairud yang telah hadir di tengah masyarakat dengan penuh kesabaran, keramahan, dan profesionalisme.

Menurutnya, tugas Polairud bukan sekadar penegakan hukum di atas air, tetapi juga membangun hubungan emosional yang kuat dengan komunitas maritim.

“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada anggota Polairud yang sudah hadir di tengah masyarakat. Kalian adalah wajah terdepan Polri di wilayah perairan.

Kehadiran kalian di dermaga, di tengah nelayan, dan di permukiman pesisir menunjukkan bahwa kita benar-benar melayani, bukan sekadar bertugas,” ujar Kombes Pol Bayuaji Yudha Prajas dengan nada hangat namun tegas.

Ia menambahkan bahwa interaksi langsung ini adalah fondasi utama bagi terciptanya keamanan perairan yang berkelanjutan. “Ketika masyarakat merasa dilindungi dan dihargai, mereka akan menjadi mitra terbaik kita dalam menjaga kedaulatan dan ketertiban di laut. Ini adalah investasi kepercayaan yang nilainya jauh lebih besar dari pada sekadar jumlah patroli atau operasi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dirpolairud Polda Sulut mengharapkan bahwa, agar setiap anggota Polairud tidak hanya mengandalkan teknologi canggih seperti radar, drone, dan sistem pemantauan terintegrasi, tetapi juga mengedepankan pendekatan humanis dalam setiap interaksi.

“Jadikan teknologi sebagai alat bantu, bukan pengganti sentuhan manusiawi. Dengarkan cerita nelayan tentang hasil tangkapan yang menurun, keluhkan tentang pungli di pelabuhan, atau ketakutan mereka terhadap cuaca ekstrem. Responsivitas kita harus seimbang antara kecepatan sistem dan kedalaman empati,” pesannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya integritas dalam pelayanan. “Pastikan bahwa setiap pengaduan ditangani secara transparan dan akuntabel. Jangan biarkan oknum merusak citra baik yang telah dibangun oleh mayoritas anggota. Kehadiran Polairud di tengah masyarakat harus selalu identik dengan keadilan, kebersihan, dan perlindungan.”

Program Layanan Dumas dan patroli humanis Polairud Polda Sulut ini adalah contoh konkret bagaimana transformasi kepolisian harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

Di provinsi kepulauan seperti Sulawesi Utara, keamanan perairan tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat pesisir. Ketika nelayan merasa aman dari ancaman kriminal, pungli, atau bencana alam, maka produktivitas ekonomi maritim akan meningkat, dan pada gilirannya, stabilitas nasional turut terjaga

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *